Arasxe's Blog

perjalanan hidup

The Runaway General

‘Kenapa saya bisa dipaksa ikut jamuan ini?” kata Jenderal Stanley McChrystal. Pada Kamis malam di pertengahan April ini, sang komandan semua pasukan Amerika Serikat dan NATO di Afghanistan sedang duduk dalam kamar berbintang empat di Hotel Westminster, Paris. Dia sedang ada di Perancis untuk mempersembahkan strategi perang terbarunya kepada sekutu-sekutunya di NATO – pada dasarnya, untuk mempertahankan ilusi bahwa AS punya sekutu. Sejak McChrystal mengambil alih setahun yang lalu, perang Afghanistan telah menjadi milik eksklusif AS. Pertentangan terhadap perang telah menjatuhkan pemerintah Belanda, memaksa mundurnya presiden Jerman dan mendorong Kanada dan Belanda untuk menarik 4.500 tentara. McChrystal sedang ada di Paris agar Perancis, yang telah kehilangan lebih dari 40 tentara di Afghanistan, tidak ikut mundur.
“Jamuan ini adalah konsekuensi dari posisi, pak,” kata Kolonel Charlie Flynn, kepala stafnya.
McChrystal berputar di atas kursinya.
“Hei, Charlie,” katanya, “apakah ini adalah konsekuensi dari posisi?”
McChrystal mengacungkan jari tengah.
Sang jenderal berdiri dan memandang kamar hotel yang telah diubah rombongan stafnya yang terdiri dari 10 orang menjadi pusat operasional lengkap. Meja-mejanya dipenuhi komputer Panasonic Toughbook perak, dan kabel-kabel biru menjejali karpet hotel yang tebal, disambungkan ke piringan satelit untuk merahasiakan komunikasi lewat telepon dan surat elektronik. Dengan memakai baju kasual ala sipil – dasi biru, kemeja, celana bahan – McChrystal merasa tidak nyaman. Paris, menurut salah satu penasihatnya, adalah “kota paling anti-McChrystal yang ada.” Sang jenderal benci restoran mewah, dan menganggap tempat makan apa pun dengan lilin di meja sebagai terlalu “Gucci”. Dia lebih suka Bud Light Lime (bir kesukaannya) daripada Bordeaux, Talladega Nights (film kesukaannya) daripada Jean-Luc Godard. Lagipula, McChrystal tidak pernah merasa nyaman saat menjadi sorotan publik. Sebelum Presiden Obama menugaskannya untuk memimpin perang di Afghanistan, dia menghabiskan lima tahun sebagai pemimpin operasi Pentagon yang paling rahasia.
“Apa berita terbaru mengenai pemboman di Kandahar?” tanya McChrystal kepada Flynn. Kota itu terguncang oleh dua bom mobil besar sehari sebelumnya, sehingga menimbulkan keraguan atas keyakinan sang jenderal bahwa dia sanggup merebut kotanya dari Taliban.
“Ada dua tentara kita yang tewas, namun itu belum dipastikan,” kata Flynn.
McChrystal kembali menatap isi kamar untuk terakhir kali. Di usia 55 tahun, dia bertubuh langsing bagaikan versi lebih tua dari Christian Bale di film Rescue Dawn. Matanya yang biru mampu membuat kita terintimidasi kalau bertatapan dengannya. Kalau kita berbuat salah atau mengecewakan McChrystal, mata itu dapat menghancurkan jiwa kita tanpa perlu berteriak.
“I’d rather have my ass kicked by a roomful of people than go out to this dinner,” kata McChrystal.
Dia terdiam sejenak.
“Sayangnya,” dia menambahkan, “tak ada orang di kamar ini yang sanggup melakukan itu.”
Dengan itu, dia keluar dari pintu.
“Dia akan makan dengan siapa?” saya bertanya kepada salah satu stafnya.
“Seorang menteri Perancis,” kata sang staf. “It’s fucking gay.”
Esok paginya, McChrystal dan timnya berkumpul karena McChrystal akan berpidato di Ecole Militaire, sebuah akademi militer Perancis. Sang jenderal bangga karena merasa lebih berani dibanding orang lain, namun keberaniannya membawa konsekuensi: Walau McChrystal baru setahun memimpin perang ini, dalam waktu yang singkat itu dia berhasil membuat kesal hampir semua orang yang terlibat dalam konflik itu. Pada musim gugur lalu, dalam sesi tanya jawab sesudah pidato yang diberikannya di London, McChrystal mencemooh strategi kontraterorisme yang didukung Wakil Presiden Joe Biden sebagai “rabun dekat” dan akan menyebabkan keadaan “Chaos-istan.” Akibat ucapan itu, Presiden Barack Obama sendiri turun tangan dan memanggil McChrystal untuk pertemuan tertutup yang tegang di atas pesawat kepresidenan Air Force One. Pesan kepada McChrystal tampak cukup jelas: Shut the fuck up, and keep a lower profile.
Kini, sambil memilah-milah kartu berisi pidatonya di Paris, McChrystal berspekulasi tentang pertanyaan seputar Biden yang akan didapatnya hari ini, dan bagaimana dia akan menjawabnya. “Saya tidak pernah tahu apa yang akan saya katakan sebelum ada di atas sana, itu masalahnya,” katanya. Lalu, tanpa bisa menahan godaan, dia dan stafnya berandai-andai tentang skenario di mana sang jenderal mencela wakil presiden.
“Apakah Anda bertanya tentang Wakil Presiden Biden?” kata McChrystal sambil tertawa. “Itu siapa?”
“Biden?” kata seorang penasihat tertingginya. “Did you just say: Bite Me?”
Ketika Barack Obama menjabat sebagai presiden, dia langsung berupaya mewujudkan janjinya yang  terpenting seputar kebijakan luar negeri saat berkampanye: agar perang di Afghanistan kembali terfokus pada alasan AS menginvasi negara tersebut. “Saya ingin rakyat Amerika memahami,” katanya di bulan Maret 2009. “Kita punya tujuan yang jelas dan terfokus: mengganggu, menghancurkan dan mengalahkan Al Qaeda di Pakistan dan Afghanistan.” Dia mengirim 21.000 tentara lagi ke Kabul, yang merupakan penambahan terbesar sejak perang itu dimulai pada tahun 2001. Atas nasihat Pentagon dan Kepala Staf Gabungan Tentara AS, dia juga memecat Jend. David McKiernan – komandan AS dan NATO di Afghanistan ketika itu – dan menggantikannya dengan seorang pria yang belum dikenalnya: Jend. Stanley McChrystal. Itu pertama kalinya dalam lebih dari 50 tahun di mana seorang jenderal dicopot dari tugas dalam masa perang, sejak Harry Truman memecat Jend. Douglas MacArthur pada puncak Perang Korea.
Walau dia memilih Obama sebagai presiden, McChrystal dan panglima tertingginya susah mencari titik temu sejak awal. Sang jenderal pertama kali bertemu dengan Obama seminggu setelah menjabat, ketika sang presiden bertemu dengan selusin perwira militer senior dalam sebuah ruang di Pentagon yang dinamakan The Tank. Menurut sumber-sumber yang familier dengan pertemuan itu, McChrystal merasa bahwa Obama tampak “tidak nyaman dan terintimidasi” saat berada di ruang penuh perwira tinggi itu. Pertemuan one-on-one mereka yang pertama berlangsung di Oval Office empat bulan kemudian, setelah McChrystal ditugaskan di Afghanistan, namun tidak berjalan lebih mulus. “Itu hanya photo op selama 10 menit,” kata penasihat McChrystal. “Obama jelas-jelas tidak tahu apa-apa tentangnya, siapa dirinya. Here’s the guy who’s going to run his fucking war, but he didn’t seem very engaged. Bos cukup kecewa.”
Sejak awal, McChrystal bertekad memberi sentuhan pribadi pada Afghanistan, dan menggunakannya sebagai laboratorium untuk strategi militer kontroversial yang dinamakan counterinsurgency. COIN, julukan teori tersebut, adalah doktrin baru para petinggi Pentagon, yang berusaha mempertemukan preferensi militer akan kekerasan berteknologi tinggi dengan tuntutan melaksanakan perang panjang di negara-negara gagal. COIN menuntut pengiriman tentara darat dalam jumlah besar tak hanya untuk menghancurkan musuh, tapi juga untuk hidup bersama populasi sipil dan membangun kembali, atau membangun dari nol, pemerintahan sebuah negara lain secara perlahan-lahan – sebuah proses yang butuh waktu bertahun-tahun, atau bahkan beberapa dekade, untuk diwujudkan, dan itu pun menurut pendukungnya yang paling setia. Pada dasarnya, teori itu merombak konsep militer, sehingga mengembangkan wewenang (dan pendanaan) agar mencakupi sisi diplomatis dan politis dalam perang: Bayangkan Beret Hijau sebagai Korps Perdamaian bersenjata. Di tahun 2006, sesudah Jend. David Petraeus menguji coba teori itu selama “serangan”-nya ke Irak, langsung muncul pendukung fanatik yang terdiri dari cendekiawan, jurnalis, perwira militer dan pejabat sipil. Dijuluki “COINdinistas” karena semangat mereka, kelompok yang berpengaruh ini yakin bahwa doktrin tersebut adalah solusi sempurna bagi Afghanistan. Mereka hanya butuh seorang jenderal dengan karisma dan kecerdasan politik yang memadai untuk menerapkannya.
Saat McChrystal mendesak Obama untuk meningkatkan intensitas perang, dia melakukannya dengan keberanian yang digunakannya untuk melacak teroris di Irak: Cari tahu cara beroperasi musuh, bertindak dengan lebih cepat dan kejam dibanding orang lain, lalu habiskan mereka. Setelah tiba di Afghanistan pada Juni lalu, sang jenderal melakukan tinjauan kebijakan sendiri, atas perintah Menteri Pertahanan Robert Gates. Laporan yang kontroversial itu bocor ke media, dan kesimpulannya mengenaskan: Jika AS tidak mengirim 40.000 tentara lagi – sehingga membuat jumlah pasukan AS di Afghanistan menjadi hampir dua kali lipat – ada ancaman “kegagalan misi”. Gedung Putih murka. Mereka merasa bahwa McChrystal berusaha menindas Obama, membuatnya rentan terhadap tuduhan bersikap lemah dalam urusan keamanan nasional, kecuali jika dia melakukan apa yang diinginkan sang jenderal. Itu menjadi Obama melawan Pentagon, dan Pentagon bertekad menghajar sang presiden.
Pada musim gugur lalu, sementara jenderal tertingginya meminta tambahan tentara, Obama meluncurkan tinjauan selama tiga bulan untuk mengkaji kembali strategi di Afghanistan. “Saya merasa tersiksa pada masa itu,” kata McChrystal dalam salah satu sesi wawancara kami yang panjang. “Saya menjual posisi yang tidak bisa dijual.” Bagi sang jenderal, itu adalah kursus kilat dalam politik – sebuah pertarungan yang membuatnya berhadapan dengan orang-orang berpengalaman di Washington, seperti Wakil Presiden Biden yang berargumen bahwa kampanye counterinsurgency yang panjang di Afghanistan akan menciptakan kemelut militer Amerika tanpa memperlemah jaringan teroris internasional. “Seluruh strategi COIN adalah penipuan terhadap rakyat Amerika,” kata Douglas Macgregor, mantan kolonel dan pengkritik terkemuka terhadap counterinsurgency, yang juga adalah lulusan akademi militer West Point bersama McChrystal. “Gagasan bahwa kita akan menghabiskan satu triliun dollar untuk merombak kultur dunia Islam adalah omong kosong.”
Namun pada akhirnya McChrystal kurang lebih mendapatkan apa yang diinginkannya. Pada 1 Desember, dalam pidato di West Point, sang presiden menjelaskan kenapa perang di Afghanistan adalah ide buruk: Biayanya mahal; negara sedang mengalami krisis perekonomian; komitmen sepanjang satu dekade akan menguras kekuatan Amerika; Al Qaeda telah memindahkan pusat operasionalnya ke Pakistan. Lalu, tanpa pernah menggunakan kata-kata “kemenangan” atau “menang”, Obama mengumumkan bahwa dia akan mengirim 30.000 tentara lagi ke Afghanistan, hampir sebanyak permintaan McChrystal. Sang presiden memberi dukungannya, walau dengan ragu-ragu, bagi kubu counterinsurgency.
Pada hari ini, di saat McChrystal bersiap-siap untuk serangan di bagian selatan Afghanistan, prospek kesuksesan tampak semakin menipis. Pada Juni lalu, angka kematian tentara AS melewati 1.000 orang, dan jumlah bom rakitan di jalan telah berlipat ganda. Menghabiskan ratusan milar dollar untuk negara termiskin kelima di dunia telah gagal meraih hati populasi sipil, yang cenderung memiliki sikap curiga dan bahkan bermusuhan terhadap tentara AS. Operasi militer terbesar di tahun ini – sebuah serangan sengit yang berawal di bulan Februari untuk merebut kembali kota Marja di wilayah selatan – terus berlangsung, sehingga McChrystal sendiri menyebutnya sebagai “borok berdarah”. Pada Juni lalu, Afghanistan resmi mengalahkan Vietnam sebagai perang terpanjang dalam sejarah Amerika – dan Obama diam-diam menjauhi batas waktu yang ditentukannya untuk penarikan mundur tentara AS, yaitu pada Juli tahun depan. Sang presiden terjebak di dalam sesuatu yang lebih gila dibanding kemelut: sebuah kemelut yang dilakukannya secara sadar, walau dia pernah mengatakan secara eksplisit bahwa dia tak menginginkan proyek pembangunan bangsa yang besar dan memusingkan.
Bahkan mereka yang mendukung McChrystal dan strategi counterinsurgency sadar bahwa apa pun yang dicapai sang jenderal di Afghanistan, itu akan lebih terlihat seperti Vietnam ketimbang Operasi Badai Gurun. “Ini sama sekali tidak akan terlihat sebagai kemenangan,” kata Mayjen Bill Mayville, yang bertugas sebagai chief of operations bagi McChrystal. “Ini akan berakhir dengan argumen.”
Pada malam sesudah pidatonya di Paris, McChrystal dan stafnya pergi ke Kitty O’Shea’s, sebuah pub Irlandia dengan prioritas pengunjung turis yang berdekatan dengan hotelnya. Istrinya, Annie, memberi kunjungan yang langka: Sejak Perang Irak berawal di tahun 2003, frekuensi bertemunya Annie dengan suaminya tidak mencapai 30 hari per tahun. Walau ini adalah ulang tahun pernikahannya bersama Annie yang ke-33, McChrystal telah mengundang orang-orang kepercayaan untuk makan malam dan minum-minum di tempat “paling non-Gucci” yang dapat ditemukan stafnya. Istrinya tidak terkejut. “Dia pernah mengajak saya ke restoran Jack in the Box ketika saya berpakaian formal,” katanya sambil tertawa.
Staf jenderal terdiri dari pembunuh, mata-mata, jenius, patriot, figur politik dan orang-orang gila yang dipilihnya sendiri. Ada mantan ketua Pasukan Khusus Inggris, dua Navy Seal, seorang tentara Pasukan Khusus Afghanistan, seorang pengacara, dua pilot pesawat tempur dan sekurang-kurangnya dua lusin veteran perang dan pakar counterinsurgency. Dengan bercanda, mereka menjuluki diri sebagai Team America, nama yang diambil dari film ala South Park yang mentertawakan kebodohan militer, dan mereka bangga atas kegigihan dan ketidakpedulian terhadap otoritas. Setelah tiba di Kabul pada musim panas lalu, Team America berupaya mengubah kultur di International Security Assistance Force, yakni misi yang dipimpin NATO. (Para tentara AS mengolok-olok ISAF sebagai singkatan dari “I Suck at Fighting” atau “In Sandals and Flip-Flops.”) McChrystal melarang adanya alkohol di pangkalan, melarang adanya Burger King dan simbol-simbol pemborosan Amerika lainnya, memperluas briefing pagi sehingga mengikutsertakan ribuan perwira, serta merombak pusat komando sehingga menjadi Situation Awareness Room, sebuah pusat informasi yang mengikuti model kantor Mike Bloomberg, walikota New York. Dia juga menjadi teladan yang bekerja keras, terkenal karena tidur empat jam tiap malam, lari 11 kilometer tiap pagi, dan hanya makan sekali sehari. (Dalam satu bulan yang saya habiskan bersama sang jenderal, saya hanya sekali menyaksikannya makan.) Sebuah reputasi sebagai manusia super telah terbangun dan muncul dalam setiap profilnya di media, seolah-olah kemampuan bisa bertahan tanpa tidur dan makan dapat memungkinkan seorang pria memenangkan perang seorang diri.
Pada tengah malam di Kitty O’Shea’s, sebagian besar Team America sudah benar-benar mabuk. Dua perwira melakukan tarian Irlandia yang digabungkan dengan tarian pernikahan tradisional Afghanistan, sedangkan para penasihat tertinggi McChrystal menggandengkan lengan dan menyanyikan lagu ciptaan sendiri. “Afghanistan!” teriak mereka. “Afghanistan!” Mereka menamakannya lagu Afghanistan. McChrystal menjauhi keramaian dan mengamati timnya. “Semua pria ini,” katanya. “Saya rela mati demi mereka. Dan mereka rela mati demi saya.”
Pria-pria yang terkumpul di sini memang terlihat dan terdengar seperti sekelompok veteran perang yang melepaskan penat, namun pada kenyataannya grup yang solid ini mewakili kekuatan terbesar yang menentukan kebijakan AS di Afghanistan. Sementara McChrystal dan orang-orangnya memegang komando atas semua aspek militer dalam perang ini, tidak ada posisi yang sederajat di sisi diplomatis atau politis. Hanya ada serangkaian orang administrasi yang bersaing untuk berwewenang di Afghanistan: Duta Besar AS Karl Eikenberry, Utusan Khusus untuk Afghanistan Richard Holbrooke, Penasihat Keamanan Nasional Jim Jones dan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton. Belum lagi sekitar 40 duta besar koalisi dan politikus yang berupaya melibatkan diri dalam masalah ini, termasuk John Kerry dan John McCain. Ketidakjelasan diplomatis ini secara efektif telah membiarkan tim McChrystal mengambil alih dan menghambat upaya untuk menciptakan pemerintah yang stabil dan terpercaya di Afghanistan. “Itu membahayakan misinya,” kata Stephen Biddle, anggota senior Council on Foreign Relations yang mendukung McChrystal. “Militer tidak dapat menciptakan reformasi pemerintah dengan sendirinya.”
Sebagian dari masalahnya bersifat struktural: Anggaran Departemen Pertahanan melebihi US$ 600 milyar per tahun, sedangkan Departemen Luar Negeri hanya menerima US$ 50 milyar. Namun bagian lain dari masalahnya bersifat personal: Secara tertutup, tim McChrystal senang menjelek-jelekkan banyak diplomat tertinggi Obama. Seorang penasihat menyebut Jim Jones, seorang mantan jenderal berbintang empat dan veteran Perang Dingin, sebagai “badut” yang “masih terjebak di tahun 1985”. Politikus seperti McCain dan Kerry, menurut penasihat lainnya, “hanya datang, bertemu dengan Karzai, mengkritiknya dalam konferensi pers di bandara, lalu pulang untuk muncul di acara bincang-bincang hari Minggu. Sejujurnya itu kurang membantu.” Hanya Hillary Clinton mendapat pujian dari orang-orang terdekat McChrystal. “Hillary mendukung Stan selama tinjauan strategis,” kata seorang penasihat. “Dia berkata, ‘Jika Stan menginginkannya, berikan apa yang dia butuhkan.’ ”
Sikap skeptis McChrystal terutama ditujukan terhadap Holbrooke, pejabat yang bertanggungjawab atas integrasi Taliban. “Menurut Bos, dia seperti binatang terluka,” kata seorang anggota tim sang jenderal. “Holbrooke terus mendengar rumor bahwa dia akan dipecat, sehingga itu membuatnya berbahaya. Dia adalah orang yang brilian, namun dia hanya masuk, menarik tuas, apa pun yang bisa dipegangnya. But this is COIN, and you can’t just have someone yanking on shit.”
Pada suatu saat dalam perjalanannya ke Paris, McChrystal membuka BlackBerry-nya. “Oh tidak, ada email lagi dari Holbrooke,” keluhnya. “Saya tidak mau membukanya.” Dia membuka suratnya dan membacakannya dengan keras, lalu memasukkan BlackBerry kembali ke sakunya, tanpa menutupi rasa kesalnya.
“Jangan sampai itu menodai kaki Anda,” kata seorang anggota staf dengan bercanda, tentang email itu.
Hubungan yang paling krusial – dan tegang – adalah antara McChrystal dan Eikenberry, sang duta besar AS. Menurut orang-orang yang kenal dekat dengan keduanya, Eikenberry – mantan jenderal bintang tiga yang sempat ditugaskan di Afghanistan pada tahun 2002 dan 2005 – tidak bisa terima kenyataan bahwa mantan bawahannya kini mengendalikan keadaan. Dia juga murka karena McChrystal, dengan dukungan sekutu-sekutu NATO, menolak untuk menempatkan Eikenberry sebagai raja muda di Afghanistan, yang akan menjadikannya diplomat yang sederajat dengan sang jenderal. Pekerjaan itu malah jatuh kepada Mark Sedwill, duta besar Inggris – sebuah langkah yang secara efektif memperbesar pengaruh McChrystal terhadap diplomasi dengan meredam seorang pesaing yang kuat. “Pada kenyataannya, posisi itu harus diisi oleh orang Amerika agar berbobot,” kata seorang pejabat AS yang familier dengan negosiasinya.
Hubungannya menjadi semakin tegang pada Januari lalu, ketika sebuah kawat rahasia yang ditulis Eikenberry dibocorkan ke The New York Times. Isi kawat itu menghujat sekaligus memprediksi apa yang akan terjadi. Sang duta besar memberi kritik tajam terhadap strategi McChrystal, menyebut Presiden Hamid Karzai sebagai “bukan mitra strategis yang memadai”, dan meragukan apakah rencana counterinsurgency akan “cukup” untuk menghadapi Al Qaeda. “Kita akan menjadi semakin terlibat di sini tanpa cara menarik diri,” kata Eikenberry dengan mewanti-wanti, “dan tinggal membiarkan negara ini kembali terpuruk dalam keadaan tanpa hukum serta kacau.”
McChrystal dan timnya dikejutkan oleh kawat itu. “Saya suka Karl, saya sudah mengenalnya selama bertahun-tahun, namun mereka belum pernah mengatakan hal seperti itu kepada kami,” kata McChrystal, yang menambahkan bahwa dia merasa “dikhianati” oleh kebocoran itu. “Inilah orang yang melindungi diri demi catatan sejarah. Kini kalau kami gagal, mereka dapat berkata, ‘Apa yang saya bilang?’ ”
Contoh paling menonjol dari penyusupan McChrystal ke dalam kebijakan diplomatis adalah penanganannya terhadap Karzai. Justru McChrystal, dan bukan diplomat seperti Eikenberry atau Holbrooke, yang menjalin hubungan terdekat dengan pria yang diandalkan Amerika untuk memimpin Afghanistan. Doktrin counterinsurgency membutuhkan pemerintah yang dapat dipercaya, dan berhubung Karzai kurang dipercaya oleh rakyatnya sendiri, McChrystal telah bekerja keras untuk mengubah itu. Selama beberapa bulan terakhir, dia telah menemani sang presiden dalam lebih dari 10 kunjungan di seluruh negeri, mendampinginya dalam pertemuan politis, atau shura, di Kandahar. Pada Februari, sehari sebelum serangan gagal di Marja, McChrystal bahkan menyetir ke istana kepresidenan agar Karzai menyetujui apa yang akan menjadi operasi militer terbesar tahun ini. Namun staf Karzai bersikeras bahwa sang presiden sedang tidur karena sakit flu dan tak boleh diganggu. Setelah bernegosiasi selama beberapa jam, McChrystal akhirnya meminta bantuan menteri pertahanan Afghanistan, yang membujuk staf Karzai untuk membangunkan sang presiden.
Inilah salah satu cacat utama dalam strategi counterinsurgency McChrystal: Kebutuhan untuk membangun sebuah pemerintah dengan legitimasi mengakibatkan AS harus menaati pemimpin mana pun yang didukung – sebuah bahaya yang sudah diwanti-wanti secara eksplisit oleh Eikenberry dalam kawatnya. Bahkan Team America diam-diam mengaku bahwa Karzai adalah mitra yang kurang ideal. “Selama setahun terakhir, dia mengurung diri di dalam istananya,” keluh salah satu penasihat tertinggi sang jenderal. Dalam kunjungan ke Walter Reed Army Medical Center belum lama ini, Karzai menemui tiga tentara AS yang terluka di propinsi Uruzgan. “Jenderal,” katanya kepada McChrystal, “saya bahkan tidak tahu kalau kita bertempur di Uruzgan!”
Saat bertumbuh sebagai anak militer, McChrystal sudah menunjukkan perpaduan kecerdasan dan keberanian yang terus menemaninya sepanjang karier. Ayahnya bertempur di Korea dan Vietnam sebelum pensiun sebagai jenderal bintang dua, dan keempat saudara kandung lelakinya juga bergabung di angkatan bersenjata. Dengan berpindah-pindah ke berbagai pangkalan, McChrystal mencari hiburan dalam bisbol, sebuah olah raga di mana dia tidak menutup-nutupi keunggulannya: Dalam liga cilik, dia akan meneriakkan strike kepada penonton sebelum melempar fastball di tengah-tengah.
McChrystal masuk ke West Point di tahun 1972, ketika popularitas militer AS mencapai titik paling rendah. Angkatannya adalah lulusan terakhir sebelum wanita diizinkan masuk akademi itu. Akademi yang pada saat itu dijuluki “Prison on the Hudson” itu adalah perpaduan antara testosteron, kenakalan dan patriotisme yang bersifat reaksioner. Para kadet berulang kali mengobrak abrik ruang mes dengan perang lempar makanan, dan ulang tahun dirayakan dengan tradisi yang bernama “rat fucking”, yang mengakibatkan anak yang berulang tahun terdampar dalam salju atau lumpur di luar dan dilumuri krim cukur jenggot. “Itu memang kurang terkendali,” kata Letjen David Barno, teman sekelas McChrystal yang sempat menjabat sebagai komandan tertinggi di Afghanistan dari 2003 hingga 2005. Kelas itu, yang menurut Barno berisi “orang-orang sangat berbakat” dan “remaja lugu dengan idealisme yang kuat”, juga menghasilkan Jend. Ray Odierno, komandan pasukan AS di Irak saat ini.
McChrystal, putra seorang jenderal, juga merupakan pemimpin para pembangkang di kampus – sebuah peran ganda yang mengajarkannya bagaimana bisa bertahan di dalam lingkungan yang kaku dan otoriter, sambil mencemooh pihak yang berkuasa di setiap kesempatan. Dia mengumpulkan hukuman sebanyak 100 jam lebih karena mabuk, berpesta dan membangkang – sebuah catatan yang membuatnya dijuluki “century man” oleh rekan-rekannya. Salah satu teman kelas, yang enggan disebutkan namanya, pernah menemukan McChrystal dalam keadaan tak sadar di pancuran mandi setelah menghabiskan sekardus bir yang disembunyikan di bawah wastafel. Ulah-ulahnya nyaris membuatnya dikeluarkan, dan dia menghabiskan berjam-jam dengan baris berbaris secara paksa di Area, sebuah lapangan di mana kadet nakal dihukum. “Saat berkunjung, saya lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan, sementara Stan berada di Area,” kata Annie, yang mulai pacaran dengan McChrystal di tahun 1973.
McChrystal akhirnya menduduki peringkat 298 dalam sebuah angkatan berisi 855 orang, sebuah prestasi mengecewakan bagi seorang pria yang dianggap brilian oleh banyak orang. Karyanya yang paling memukau bersifat ekstrakurikuler: Sebagai managing editor untuk The Pointer, majalah sastra West Point, McChrystal menulis tujuh cerita pendek yang berisi banyak masalah yang kemudian dihadapi dalam kariernya. Dalam satu cerita, seorang perwira fiktif mengeluh tentang sulitnya mendidik tentara asing dalam bertempur; dalam cerita lain, seorang tentara berusia 19 tahun salah membunuh bocah yang dikira teroris. Dalam “Brinkman’s Note”, karya fiksi yang menegangkan, naratornya yang anonim tampak berusaha mencegah rencana membunuh presiden. Namun, ternyata narator itu sendiri adalah pembunuhnya, dan dia mampu menyusup ke Gedung Putih: “Sang presiden melangkah masuk sambil tersenyum. Dari saku kanan jaket yang saya bawa, saya pelan-pelan mengeluarkan pistol kaliber 32. Dalam kegagalan Brinkman, saya berhasil.”
Setelah lulus, Letnan Dua Stanley McChrystal masuk ke Angkatan Darat yang praktis terpuruk setelah Vietnam. “Kami merasa sebagai generasi masa perdamaian,” katanya. “Ada Perang Teluk, namun itu juga tidak terasa signifikan.” Maka McChrystal menghabiskan kariernya di mana ada aksi: Dia masuk sekolah Pasukan Khusus dan menjadi komanden regimen untuk 3rd Ranger Batallion di tahun 1986. Itu adalah posisi yang berbahaya, bahkan di masa perdamaian – hampir dua lusin Ranger tewas dalam kecelakaan latihan di tahun ’80-an. Itu juga adalah jalur karier yang tidak lazim: Kebanyakan tentara yang ingin menjadi jenderal tidak ikut Ranger. Dengan menunjukkan kemampuan mengubah sistem yang dianggapnya sudah kadaluarsa, McChrystal merombak program pelatihan untuk Ranger. Dia memperkenalkan mixed martial arts, mengharuskan tiap tentara lolos rifle range dengan memakai night-vision goggles dan memaksa tentara membangun stamina dengan baris berbaris tiap minggu sambil membawa ransel berat.
Di akhir 1990-an, McChrystal dengan cerdas memperbaiki kemampuan berpolitiknya, dengan menghabiskan setahun di Kennedy School of Government di Harvard, lalu di Council on Foreign Relations, di mana dia ikut menulis makalah tentang kelebihan dan kekurangan intervensi kemanusiaan. Namun seiring dengan kenaikan pangkat, McChrystal mengandalkan pelajaran yang didapat sebagai anak pembuat onar di West Point: mengetahui sejauh mana bisa melanggar peraturan dalam hirarki militer yang kaku tanpa dipecat. Ternyata, menjadi pemberontak yang sangat cerdas dapat membawa kita jauh – terutama dalam kekacauan politis yang menyusul 11 September. “Dia sangat fokus,” kata Annie. “Bahkan sebagai perwira muda, dia tampak seperti tahu apa yang ingin dilakukan. Saya rasa kepribadiannya belum berubah setelah sekian tahun.”
Menurut beberapa cerita, seharusnya karier McChrystal sudah tamat setidaknya dua kali. Sebagai juru bicara Pentagon selama invasi Irak, sang jenderal lebih tampak seperti corong Gedung Putih ketimbang komandan pendatang baru dengan reputasi berbicara lugas. Saat Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld membuat komentar “stuff happens” yang kontroversial saat Baghdad dijarah, McChrystal mendukungnya. Beberapa hari kemudian, dia mencerminkan kesalahan presiden dalam menyatakan Misi Berhasil dengan bersikeras bahwa operasi tempur utama di Irak sudah selesai. Namun dalam penugasan berikutnya – memimpin unit-unit paling elite dalam militer, termasuk Rangers, Navy Seals dan Delta Force – McChrystal terlibat dalam aksi tutup mulut yang dapat menghancurkan karier orang yang tak sehebat dirinya.
Setelah Korporal Pat Tillman, mantan bintang NFL yang menjadi Ranger, terbunuh secara tidak sengaja oleh tentara-tentaranya sendiri di Afghanistan pada April 2004, McChrystal berperan aktif dalam menciptakan kesan bahwa Tillman tewas di tangan pejuang Taliban. Dia menandatangani rekomendasi palsu agar Tillman diberikan penghargaan Silver Star karena terbunuh oleh tembakan musuh. (Belakangan, McChrystal mengaku bahwa dia kurang teliti membaca rekomendasinya – sebuah alasan aneh oleh seorang komandan yang terkenal karena sangat memperhatikan detail.) Seminggu kemudian, McChrystal mengirim memo ke hirarki atasan, dan mewanti-wanti secara spesifik agar Presiden Bush tidak menyebut penyebab kematian Tillman. “Jika cerita kematian Korporal Tillman diketahui publik,” tulisnya, itu dapat mengakibatkan “malu di hadapan umum” bagi presiden.
“Narasi palsu, yang jelas-jelas direkayasa dengan bantuan McChrystal, mengecilkan makna perbuatan Pat yang sesungguhnya,” tulis ibu Tillman, Mary, dalam bukunya Boots on the Ground by Dusk. Dia menambahkan bahwa McChrystal berhasil menipu karena dialah “anak emas” Rumsfeld dan Bush, yang menyukai semangatnya dalam mensukseskan misi, walau itu termasuk melanggar peraturan atau melangkahi garis komando. Sembilan hari setelah kematian Tillman, McChrystal naik pangkat menjadi mayor jenderal.
Dua tahun kemudian, pada 2006, nama McChrystal ternoda oleh skandal yang mencakupi pelecehan dan penyiksaan terhadap tahanan di Camp Nama, Irak. Menurut laporan oleh Human Rights Watch, tahanan di kamp itu harus menderita sederet siksaan yang kini sudah familier: posisi stres, diseret melalui lumpur dalam keadaan bugil. McChrystal tidak dihukum akibat skandal itu, walau seorang interogator di kamp melaporkan telah melihatnya berkali-kali melakukan inspeksi di penjara itu. Namun pengalaman itu begitu mengguncang McChrystal, sehingga dia berusaha mencegah operasi tahanan diserahkan kepada kepemimpinannya di Afghanistan, karena memandangnya sebagai “rawa-rawa politis”, menurut seorang pejabat AS. Pada Mei 2009, saat McChrystal bersiap-siap untuk sidang konfirmasi, stafnya mempersiapkannya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit seputar Camp Nama dan penutupan Tillman. Namun skandal itu tidak signifikan bagi Kongres, dan McChrystal segera kembali ke Kabul untuk memimpin perang di Afghanistan.
Pada umumnya, media juga tidak mengusik McChrystal atas kedua kontroversi itu. Kalau Jend. Petraeus seperti anak kesayangan guru dengan lencana Ranger, McChrystal adalah pemberontak pemakan ular, atau seorang komandan “Jedi”, sebagaimana dijuluki Newsweek. Dia tidak peduli ketika putra remajanya pulang ke rumah dengan rambut biru dan mohawk. Dia berbicara dengan kelugasan yang jarang ada dalam diri pejabat berpangkat tinggi. Dia meminta pendapat, dan tampak tulus dalam menyimak tanggapan. Dia mendapat briefing lewat iPod dan mendengar buku lewat audio. Dalam konvoinya, dia membawa nunchucks yang dibuat khusus dengan ukiran nama dan empat bintang, dan jadwalnya seringkali berisi kutipan baru dari Bruce Lee. (“Tidak ada batas. Hanya ada dataran, dan kita tidak boleh terus di sana, kita harus melebihinya.”) Dia ikut puluhan serangan malam selama di Irak, sesuatu yang tak pernah dilakukan komandan tinggi lainnya, dan sering ikut misi tanpa pengumuman sebelumnya, tanpa membawa rombongan besar. “The fucking lads love Stan McChrystal,” kata seorang perwira Inggris yang bertugas di Kabul. “Bisa saja kita ada di suatu tempat di Irak, dan tiba-tiba ada berlutut di samping kita, dan akan ada seorang korporal yang bertanya ‘Itu siapa?’ And it’s fucking Stan McChrystal.”
Ini turut dibantu oleh sukses besar McChrystal sebagai kepala Joint Special Operations Command, pasukan elite yang melaksanakan operasi pemerintah yang paling rahasia. Selama operasi di Irak, timnya membunuh dan menangkap ribuan pejuang, termasuk Abu Musab al-Zarqawi, pemimpin Al Qaeda di Irak. “JSOC adalah mesin pembunuh,” kata Mayjen Mayville, chief of operations-nya. McChrystal juga terbuka terhadap metode pembunuhan yang baru. Dia memaparkan jaringan teroris secara sistematis, mengincar pejuang-pejuang tertentu dan memburu mereka – seringkali dengan bantuan pakar komputer yang biasanya diacuhkan oleh militer. “Bos menemukan anak berusia 24 tahun dengan anting di hidung, dengan gelar brilian dari MIT, duduk di sudut dengan 16 monitor komputer,” kata seorang komando Pasukan Khusus yang bertugas bersama McChrystal di Irak dan kini menjadi bagian dari stafnya di Kabul. “Dia berkata, ‘Hey – you fucking muscleheads couldn’t find lunch without help. You got to work together with these guys.’ ”
Bahkan dalam peran barunya sebagai pelopor counterinsurgency terkemuka di Amerika, McChrystal tetap memiliki naluri pemburu teroris. Agar semakin menekan Taliban, dia meningkatkan jumlah unit Pasukan Khusus di Afghanistan dari empat menjadi 19. “Sebaiknya kamu hajar empat atau lima sasaran pada malam ini,” kata McChrystal kepada seorang Navy Seal yang berpapasan dengannya di lorong markas. Lalu dia menambahkan, “Namun saya akan harus menghardik kamu esok paginya.” Malah, sang jenderal seringkali meminta maaf atas konsekuensi buruk dari counterinsurgency. Dalam empat bulan pertama di tahun ini, pasukan NATO membunuh sekitar 90 orang sipil, meningkat 76 persen dari periode yang sama di tahun 2009 – sebuah catatan yang telah menimbulkan kebencian di antara populasi yang seharusnya direbut hatinya, menurut teori COIN. Pada Februari lalu, sebuah serangan Pasukan Khusus di malam hari mengakibatkan tewasnya dua wanita Afghanistan yang sedang hamil serta tuduhan penutupan fakta, lalu pada April, terjadilah demonstrasi di Kandahar setelah pasukan AS secara tidak sengaja menembak bus dan menewaskan lima orang Afghanistan. “Kami telah menembak orang dengan jumlah yang luar biasa,” kata McChrystal belum lama ini.
Walau terjadi banyak tragedi dan kesalahan, McChrystal telah mengeluarkan beberapa perintah terkeras dalam sejarah militer AS di zona perang demi menghindari korban sipil. Dia menyebutnya “insurgent math” – setiap orang tak bersalah yang kita bunuh, mengakibatkan terciptanya 10 musuh baru. Dia memerintahkan konvoi agar berhati-hati dalam menyetir, membatasi penggunaan kekuatan udara dan membatasi serangan malam. Dia sering meminta maaf kepada Hamid Karzai apabila ada orang sipil yang terbunuh, dan menghardik komandan yang bertanggung jawab atas kematian sipil. “Untuk beberapa waktu,” kata seorang pejabat AS, “tempat yang paling berbahaya di Afghanistan adalah di hadapan McChrystal setelah insiden ‘civ cas’.” Para komandan ISAF bahkan telah membahas bagaimana caranya agar tidak membunuh adalah sesuatu yang layak diberikan penghargaan: Ada pembicaraan tentang penciptaan medali baru untuk “courageous restraint”, sebuah istilah yang tidak akan mendapat banyak dukungan dalam kultur militer AS yang sembrono.
Namun sestrategis apa pun, perintah baru dari McChrystal telah menciptakan keresahan di antara tentaranya sendiri. Mereka mengeluh bahwa perintah menahan tembakan membuat nyawa mereka semakin terancam. “Intinya?” kata mantan tentara Pasukan Khusus yang pernah menghabiskan beberapa tahun di Irak dan Afghanistan. “I would love to kick McChrystal in the nuts. Aturan tempurnya membuat nyawa tentara semakin terancam bahaya. Setiap tentara sejati akan mengatakan hal yang sama.”
Pada Maret lalu, McChrystal pergi ke Combat Outpost JFM – sebuah perkemahan kecil di pesisir Kandahar – agar bisa berhadapan langsung dengan tuduhan dari tentara tersebut. Itu adalah langkah berani yang tipikal dari sang jenderal. Hanya dua hari sebelumnya, dia menerima email dari Israel Arroyo, seorang staff sergeant berusia 25 tahun yang meminta McChrystal untuk ikut misi bersama unitnya. “Saya menulis ini karena katanya Anda tidak peduli akan tentara dan mempersulit kami dalam melindungi diri,” tulis Arroyo.
Dalam beberapa jam, McChrystal membalas sendiri: “Saya sedih atas tuduhan bahwa saya tidak peduli akan tentara, karena itu adalah sesuatu yang menyinggung tentara mana saja secara personal dan profesional – setidaknya bagi saya. Namun saya sadar bahwa pendapat adalah tergantung sudut pandang di saat itu, dan saya menghargai bahwa setiap tentara punya pendapatnya masing-masing.” Lalu dia tiba di pos Arroyo dan ikut patroli jalan kaki bersama tentara – bukan hanya berjalan di pasar secara simbolis, namun operasi nyata di zona perang yang berbahaya.
Enam minggu kemudian, sebelum McChrystal kembali dari Paris, sang jenderal menerima email lagi dari Arroyo. Seorang korporal bernama Michael Ingram, 23 tahun – salah satu tentara yang ikut patroli bersama McChrystal – tewas akibat bom rakitan sehari sebelumnya. Itulah tentara ketiga yang tewas di pelaton beranggotakan 25 orang itu dalam setahun, dan Arroyo menulis untuk menanyakan apakah sang jenderal akan menghadiri pemakaman Ingram. “Dia mulai menghormati Anda,” tulis Arroyo. McChrystal berkata bahwa dia akan berusaha datang untuk memberi penghormatannya sesegera mungkin.
Semalam sebelum sang jenderal akan mendatangi pelaton Sersan Arroyo untuk pemakaman, saya tiba di Combat Outpost JFM untuk berbicara dengan para tentara yang pergi berpatroli bersamanya. JFM adalah perkemahan kecil, yang dikelilingi tembok pelindung tinggi dan menara penjaga. Hampir semua tentara itu telah berkali-kali ditugaskan di Irak dan Afghanistan, dan telah menyaksikan pertempuran paling sengit di kedua perang. Namun mereka sangat marah akibat kematian Ingram. Komandan-komandannya telah berulang kali meminta izin untuk merobohkan rumah di mana Ingram terbunuh, karena itu sering digunakan sebagai posisi serang oleh Taliban. Namun akibat batasan baru oleh McChrystal agar tidak membuat penduduk sipil marah, izin itu ditolak. “Ini adalah rumah-rumah kosong,” kata Sersan Kennith Hicks. “Tidak ada yang pulang untuk tinggal di sana.”
Seorang tentara memperlihatkan daftar peraturan baru yang diterima pelaton itu. “Hanya boleh patroli di wilayah-wilayah di mana Anda cukup yakin tidak harus membela diri dengan kekuatan mematikan,” tertulis kartu yang dilaminasi itu. Bagi seorang tentara yang terbang melalui separuh dunia untuk bertempur, itu seperti menyuruh polisi untuk hanya patroli di wilayah di mana dia yakin tidak perlu menangkap siapa-siapa. “Does that make any fucking sense?” kata Pfc. Jared Pautsch. “We should just drop a fucking bomb on this place. Itu membuat kita bertanya pada diri sendiri: Kita sedang apa di sini?”
Peraturan yang diberikan di sini bukan sesuai niat McChrystal – telah terjadi distorsi saat menurun melalui hirarki kepemimpinan – namun mengetahui hal tersebut tidak mengurangi amarah para tentara di lapangan. “Fuck, when I came over here and heard that McChrystal was in charge, I thought we would get our fucking gun on,” kata Hicks, yang telah bertugas dalam tiga tur perang. “Saya paham COIN, saya paham itu semua. Saat McChrystal datang ke sini dan menjelaskannya, itu masuk akal. Namun kemudian dia pergi naik helikopter, dan ketika perintahnya tiba di kami melalui Angkatan Darat, semuanya menjadi kacau – entah karena seseorang berusaha menutupi kesalahan sendiri, atau karena mereka sendiri tidak memahaminya. But we’re fucking losing this thing.”
McChrystal dan timnya tiba esok harinya. Di bawah tenda, sang jenderal berdiskusi selama 45 menit bersama sekitar dua lusin tentara. Suasananya tegang. “Saya ingin menanyakan apa yang terjadi di dunia kalian, dan saya rasa ada pentingnya kalau kalian semua memahami garis besarnya juga,” kata McChrystal. “Apa kabar pelaton ini? Apakah kalian mengasihani diri sendiri? Ada? Ada yang merasa sedang kalah?” kata McChrystal.
“Pak, beberapa orang di sini merasa kalau kita kalah,” kata Hicks.
McChrystal mengangguk. “Kekuatan itu adalah memimpin di saat tidak ingin memimpin,” katanya kepada prajuritnya. “Kita memimpin lewat teladan. Itu yang kita lakukan. Terutama di saat keadaan sangat, sangat sulit dan terasa menyakitkan di hati.” Lalu dia menghabiskan 20 menit untuk berbicara tentang counterinsurgency, dengan menggambarkan konsep dan prinsipnya pada papan tulis. Dia membuat COIN terlihat seperti masuk akal sehat, namun dia berhati-hati agar itu tidak terkesan seperti omong kosong. “Kita berada di tengah-tengah tahun yang menentukan,” katanya. Menurutnya, Taliban sudah tidak memegang kendali – “namun saya rasa kita juga tidak memegangnya.” Itu serupa dengan pidato yang diberikannya di Paris, namun itu tidak mampu merebut hati dan pikiran para tentara. “Ini bagian filosofis yang mampu meyakinkan para think tank,” kata McChrystal, yang mencoba bercanda. “Namun itu tidak mendapat respons yang sama dari pasukan infantri.”
Selama sesi tanya jawab, frustrasi memuncak. Para tentara mengeluh karena dilarang menggunakan kekuatan mematikan, dan menyaksikan dibebaskannya pejuang yang mereka tahan karena kekurangan bukti. Mereka ingin bisa bertempur – seperti yang mereka lakukan di Irak, seperti yang mereka lakukan di Afghanistan sebelum McChrystal datang. “Kita tidak membuat Taliban merasa ketakutan,” kata seorang tentara.
“Merebut hati dan pikiran dalam COIN adalah urusan berdarah dingin,” kata McChrystal, sambil menyebut kembali prinsip bahwa mereka tidak bisa menang di Afghanistan dengan membunuh. “Rusia membunuh 1 juta orang Afghanistan, dan itu tidak berhasil.”
“Saya tidak mengusulkan agar kita membunuh semua orang, pak,” kata sang tentara. “Menurut Anda, kita telah menghentikan momentum perlawanan. Saya rasa itu tidak benar di wilayah ini. Semakin jauh kita mundur, semakin banyak kita menahan diri, mereka semakin kuat.”
“Saya setuju dengan Anda,” kata McChrystal. “Di wilayah ini, mungkin kita belum mencapai kemajuan. Kita harus menunjukkan kekuatan di sini, harus menggunakan tembakan. Yang saya maksudkan adalah, tembakan membawa konsekuensi. Apa yang Anda ingin lakukan? Anda ingin membasmi populasi di sini dan membangunnya kembali?”
Seorang tentara mengeluh bahwa peraturan itu berarti pemberontak mana pun yang tidak bersenjata langsung dianggap sebagai orang sipil. “Memang begitulah permainan ini,” kata McChrystal. “Ini rumit. Saya tidak bisa langsung memutuskan: Ini tim berbaju dan tidak berbaju, dan kita akan membunuh semua yang tidak berbaju.”
Saat diskusi berakhir, McChrystal tampaknya merasa bahwa dia belum berhasil meredam amarah para tentara itu. Dia membuat upaya terakhir untuk mendekati mereka, dengan menyebut kematian Korporal Ingram. “Saya tak mungkin membuat itu terasa lebih mudah,” katanya kepada mereka. “Saya tidak bisa berpura-pura bahwa itu tidak menyakitkan. Saya tidak mungkin menyuruh kalian untuk tidak merasakan itu…Saya akan berkata, bahwa kalian menjalani tugas dengan hebat. Jangan sampai terbawa oleh rasa frustrasi.” Sesi itu berakhir tanpa tepuk tangan, dan tanpa resolusi yang jelas. McChrystal memang berhasil meyakinkan Presiden Obama agar mendukung counterinsurgency, namun banyak di antara tentaranya sendiri belum percaya.
Dalam hal Afghanistan, sejarah tidak berpihak pada McChrystal. Satu-satunya penyerang asing yang berhasil di sini adalah Genghis Khan – dan dia tidak terhambat oleh hal-hal seperti hak azasi, pembangunan perekonomian dan pemantauan pers. Anehnya, doktrin COIN mendapat inspirasi dari hal-hal paling memalukan dalam sejarah militer Barat dewasa ini: perang sengit Perancis di Algeria (kalah di tahun 1962) dan petualangan gagal Amerika di Vietnam (kalah di tahun 1975). McChrystal, seperti halnya pendukung-pendukung COIN lainnya, rela mengaku bahwa pada dasarnya kampanye counterinsurgency itu berantakan, mahal dan mudah gagal. “Bahkan orang-orang Afghanistan bingung dengan Afghanistan,” katanya. Namun walau dia berhasil, entah bagaimana caranya, setelah pertempuran berdarah selama bertahun-tahun dengan anak-anak Afghanistan yang bukan ancaman bagi tanah AS, perang itu tidak akan berpengaruh dalam mematikan Al Qaeda, yang telah memindahkan pusat operasionalnya ke Pakistan. Mengirim 150.000 tentara untuk membangun sekolah, jalan, mesjid dan fasilitas pembersihan air di sekitar Kandahar adalah seperti berusaha menghentikan perang narkotika di Meksiko dengan menduduki Arkansas dan mendirikan gereja-gereja Baptis di Little Rock. “Dari segi politis, ini sangat sinis,” kata Marc Sageman, mantan case officer CIA yang punya banyak pengalaman di wilayah itu. “Afghanistan bukan vital interest kita – tidak ada apa-apa di sana untuk kita.”
Pada pertengahan Mei, dua minggu setelah mengunjungi pasukan di Kandahar, McChrystal pergi ke Gedung Putih untuk kunjungan penting oleh Hamid Karzai. Itu adalah momen keberhasilan bagi sang jenderal, yang membuktikan bahwa dia memegang kendali – baik di Kabul maupun di Washington. Di East Room, yang dipenuhi wartawan dan pejabat, Presiden Obama memuji Karzai. Kedua pemimpin berbicara tentang luatnya hubungan mereka, tentang rasa prihatin mereka terhadap korban sipil. Mereka menyebut kata “progres” 16 kali dalam sejam. Namun mereka tidak menyebut soal kemenangan. Walau demikian, sesi itu merupakan komitmen terkuat Obama terhadap strategi McChrystal dalam beberapa bulan ini. “Tidak dapat dipungkiri adanya kemajuan rakyat Afghanistan dalam beberapa tahun terakhir – dalam pendidikan, jaminan kesehatan dan pembangunan perekonomian,” kata sang presiden. “Seperti yang saya lihat dalam lampu-lampu di seluruh Kabul ketika mendarat – lampu-lampu yang tidak kelihatan hanya beberapa tahun silam.”
Itu adalah observasi yang meresahkan oleh Obama. Selama tahun-tahun terburuk di Irak, ketika pemerintah Bush tidak punya progres signifikan untuk dilaporkan, para pejabat biasanya menggunakan hal yang sama sebagai bukti kesuksesan. “Itu adalah salah satu kesan pertama kami,” kata seorang pejabat GOP di tahun 2006, setelah mendarat di Baghdad pada puncak perang sipil. “Begitu banyak lampu yang bersinar terang.” Maka pemerintah Obama telah beralih ke bahasa Perang Irak – mengenai kemajuan, lampu kota, jaminan kesehatan dan pendidikan. Hanya beberapa tahun lalu, mereka akan mengolok-olok retorika seperti ini. “Mereka berusaha memanipulasi persepsi karena tidak ada definisi kemenangan – karena kemenangan belum ada definisinya atau dapat diketahui,” kata Celeste Ward, seorang analis pertahanan senior di RAND Corporation yang bertugas sebagai penasihat politik bagi komandan-komandan AS di Irak pada tahun 2006. “Itulah permainan yang kita jalani sekarang. Yang kita butuhkan, demi kepentingan strategis, adalah menciptakan persepsi bahwa kita tidak diusir. Fakta-fakta di lapangan tidak membahagiakan, dan tidak akan membahagiakan dalam waktu dekat.”
Namun, seperti yang kita lihat dari sejarah, fakta di lapangan tidak dapat berubah pikiran militer yang bertekad tetap berada di jalur. Bahkan orang-orang kepercayaan McChrystal menyadari bahwa meningkatnya sentimen anti-perang di negara sendiri belum cukup mencerminkan betapa kacaunya keadaan di Afghanistan. “Kalau rakyat Amerika memerhatikan perang ini, popularitasnya akan semakin berkurang,” kata seorang penasihat senior McChrystal. Namun kenyataan ini tidak mencegah pendukung counterinsurgency dalam bermimpi muluk: Bukannya mulai menarik tentara pada tahun depan, sesuai janji Obama, militer malah berharap meningkatkan kampanye counterinsurgency lebih jauh lagi. “Ada kemungkinan kami dapat meminta tambahan pasukan AS pada musim panas depan kalau ada keberhasilan di sini,” kata seorang pejabat militer senior di Kabul kepada saya.
Di Afghanistan, kurang dari sebulan setelah bertemu dengan Karzai di Gedung Putih dan membicarakan “kemajuan”, McChrystal mendapat pukulan terbesar terhadap visi counterinsurgency. Sejak tahun lalu, Pentagon berencana meluncurkan operasi militer besar pada musim panas ini di Kandahar, kota terbesar kedua dan pusat operasi awal Taliban. Seharusnya itu menjadi titik penentuan dalam perang – alasan utama bagi pertambahan tentara yang diminta McChrystal dari Obama pada akhir tahun lalu. Namun pada 10 Juni, dengan mengaku bahwa militer masih harus melakukan persiapan lebih lanjut, sang jenderal mengumumkan bahwa dia menunda serangan hingga musim gugur. Bukannya mengadakan satu pertempuran besar, seperti di Fallujah atau Ramadi, tentara AS akan menerapkan apa yang disebut McChrystal sebagai “gelombang keamanan yang terus memuncak.” Polisi dan tentara Afghanistan akan masuk Kandahar untuk mencoba mengambil alih wilayah, sedangkan AS akan mengucurkan dana senilai US$ 90 juta ke kota itu untuk merebut hati populasi sipil.
Bahkan para pendukung counterinsurgency mengalami kesulitan dalam menjelaskan rencana baru itu. “Ini bukan operasi yang klasik,” kata seorang pejabat militer AS. “Ini bukan seperti Black Hawk Down. Takkan ada pintu yang didobrak.” Pejabat AS lainnya bersikeras bahwa akan ada pintu yang didobrak, namun serangan ini akan bersifat lebih lembut dibanding musibah di Marja. “Taliban menindas kota ini,” kata seorang pejabat militer. “Kita harus menyingkirkan mereka, tapi harus melakukannya dengan cara yang tidak akan membuat populasi kecewa.” Saat Wakil Presiden Biden mendapat briefing tentang rencana baru itu di Oval Office, orang-orang dalam berkata bahwa dia terkejut karena rencana itu sangat mirip dengan rencana kontraterorisme bertahap yang didukungnya pada musim gugur lalu. “Ini seperti CT-plus!” katanya, menurut pejabat AS yang hadir di pertemuan itu.
Apa pun sifat rencana baru itu, penundaan itu menggarisbawahi cacat-cacat dasar dari counterinsurgency. Setelah perang selama sembilan tahun, Taliban tampaknya terlalu kuat untuk diserang secara frontal oleh militer AS. Orang-orang yang hatinya ingin direbut oleh COIN – rakyat Afghanistan – justru tidak menginginkan kehadiran AS di sana. Presiden Karzai, yang seharusnya merupakan sekutu AS, memanfaatkan kekuasaannya untuk menunda serangan itu, dan bertambahnya bantuan atas permintaan McChrystal hanya akan memperparah keadaan. “Melempar uang ke masalah itu akan memperparah masalah itu,” kata Andrew Wilder, seorang pakar di Tufts University yang telah mempelajari dampak dari bantuan di wilayah selatan Afghanistan. “Sebuah tsunami uang memacu korupsi, mengurangi legitimasi pemerintah dan menciptakan suasana di mana kita memilih yang menang dan kalah” – sebuah proses yang menciptakan kebencian dan kekerasan di antara populasi sipil. Sejauh ini, counterinsurgency hanya berhasil dalam menciptakan permintaan yang tiada henti bagi produk primer yang disediakan oleh militer: perang tanpa henti. Ada alasan kenapa Presiden Obama sebisanya menghindari kata “kemenangan” saat berbicara tentang Afghanistan. Tampaknya menang adalah sesuatu yang mustahil. Bahkan dengan kepemimpinan Stanley McChrystal.

fr : Rollingstone.co.id

Juli 5, 2010 - Posted by | Info

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: